Penyakit Virus Daun Menggulung dapat Menurunkan Produksi Kentang

Sumber Gambar: gardener.wikia.com
Tanaman kentang (Solanum tuberosum) telah banyak dibudiayakan di berbagai benua, negara, provinsi dan daerah. Di Indonesia, umumnya tanaman sayuran tersebut ditanam di daerah dataran tinggi pada ketinggian tempat 1.000 – 3.000 m dpl (di atas permukaan laut). Konon penanaman kentang pertama di Indonesia dilakukan pada tahun 1750 di sekitar Cibodas-Pacet, Jawa Barat Namun kini tanaman kentang sudah banyak dibudidayakan di daerah pegunungan yang ada di beberapa daerah di Indonesia seperti di Aceh, Tanah Karo, Padang, Jambi, Bengkulu, Lembang, Pangalengan, Pegunungan Dieng.

Sebagaimana kita ketahui, hasil utama tanaman kentang adalah umbi. Umbi kentang dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan. Aneka bahan pangan dari kentang dapat berbentuk olahan basah atau kering antara lain kentang rebus, kentang kukus, sup kentang, kentang goreng, kroket kentang, perkedel kentang, kripik kentang atau pun chip kentang. Olahan kentang juga sudah banyak dijual di Supermarket misalnya Chiato dan potato.

Sampai saat ini, petani juga cukup banyak yang membudidayakan tanaman kentang tersebut. Namun dalam budidaya tanaman hortikultura tersebut tidak selalu mulus, alias kentang tidak dapat diperoleh hasil umbi seperti yang diharapkan karena adanya beberapa masalah yang dapat menurunkan produksi tanaman kentang tersebut, salah satunya adalah adanya serangan penyakit.

Upaya pengendalian penyakit pada tanaman kentang memang sudah disadari petani. Oleh karena itu setiap petani yang sedang membudidayakan kentang selalu berupaya mengendalikan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura tersebut sehingga kentang yang ditanamnya itu bisa bebas dari serangan penyakit. Jika pun ada serangan penyakit, seranganya tidak begitu parah sehingga umbi kentang yang ditunggu-tunggu dapat diperoleh sesuai harapan.

Meski sudah disadari petani, namun ada pula petani yang membudidayakan kentang kurang paham dalam upaya pengendalian penyakit yang disebabkan oleh virus Potato Leaf Roll Virus/PLR atau Corium Solani . Karena kurang paham, maka serangan penyakit pada pertanaman kentang yang dibudidayakannya itu bertambah parah. Tentu saja dengan keadaan ini, umbi kentang yang dihasilkan akan mengecewakan karena umbi yang sekian lama ditunggu-tunggu tidak diperoleh seperti apa yang diharapkan.

Selain menyerang kentang, tanaman inang lain yang dapat diserang penyakit virus daun menggulung tersebut antara lain tanaman kentang liar (Solanum demissum, Solanum dulcamara), tomat, kecubung (Datura stramonium, Datura tatula) dan ceplukan (Physallis angulata, Physalis floridana). Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit diantaranya jenis tanaman kentang yang dibudidayakan, tingkat kepekaan dn lamanya tanaman yg dibudidayakan, kesehatan benih kentang yang ditanam dan faktor lingkungan biotik dn abiotik. Apabila tingkat kepekaan tanaman, populai vbektor dan sumber inokulum lebih tinggi, maka perkembangan penyakit akan lebih cepat.

Penulaan penyakit terjadi melalui penyambungan batang atau melalui vektor kutu daun (Aphid). Aphid yang berperan menularkan PLRV adalah Myzus percicae dan jenis-jenis kutu lain ,yaitu Myzus ascalonicus, Neomyzus circumplexus, Aulacorthum solani, Macrosiphum euphorbiae dan Aphis nasturtii. Virus bertahan dalam tubuh serangga selama 5 hari dan dapat menularkan virus bila dibiarkan mengisap tanaman sehat selama 5 menit. Penyakit PLRV berpotensi menurunkan hasil umbi benih 25 – 95 %.

Gejala
Sebagai gejala atau tanda bahwa kentang diserang penyakit vuirus daun menggulung sebenarnya mudah. Lihat saja pada daunnya. Tanaman yang terserang penyakit PLRV, daunnya menggulung ke atas di sepanjang urat daun utama yang dimulai dari ujung anak daun. Sedang tangkai daunnya agak tegak dan helaian anak daun kaku daun regas, warna daun kekuningan atau mengalami khlorosis.

Apabila munculnya serangan penyakit itu karena infeksi akibat terbawa benih, maka gejalanya umumnya diawali dari daun bagian bawah. Tetapi apabila terjadinya infeksi penyakit setelah tanaman ada di lapangan, maka gejala penyakit yang terlihat pada bagian atasnya. Akibat selanjutnya, daun dan batang tanaman yang sakit menjadi pucat, kurus dan batangnya mengecil. Dengan kejadian ini maka tanaman yang sakit itu akan membentuk umbi yang kecil-kecil. Tentunya umbi seperti ini kurang laku di pasaran sehingga rupiah yang dibawa pulang lebih sedikit dibanding bila menjual umbi kentang yang tidak kena penyakit.

Pengendalian
Untuk mengendalikan serangan penyakit PLRV dapat dilakukan dengan cara kultur teknis maupun cara kimiawi.

1. Cara Kulktur Teknis
Dalam penanamannya gunakan benih sebar, besertifikat dan berlabel karena benih kentang seperti ini lebih terjamin pertumbuhannya sehingga umbi kentang yang dipanen nantinya akan diperoleh seperti apa yang diharapkan, yaitu jumlahnya banyak dan mutunya baik. Tanaman yang sudah menunjukkan adanya gejala serangan virus segera dicabut dan dimusnahkan atau dibakar supaya tidak menjadi sumber penyakit yang akan menular pada tanaman lain yang masih sehat.

Cara lainnya, upayakan kebun pertanaman kentang selalu dalam keadaan bersih. Dengan kondisi kebun yang selalu bersih, maka penyakit tidak mudah berkembang sehingga pertanaman akan tumbuh optimal. Untuk itu, segala gulma dan tanaman inang seperti tanaman kentang liar, tomat, kecubung dan ceplukan yang ada dicabut dan dimusnahkan/dibakar supaya tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. Bisa pula menggunakan musuh alami seperti kumbang Coccinella.

2. Cara Kimiawi
Mengingat penyebaran penyakit ini ditularrkan melalui kutu daun (Aphis), maka untuk mengendalikannya bisa menggunakan insektisida sistemik yang dianjurkan berbahan aktif triasofos, asefat yang cara penggunaannya dapat dibaca pada label yang ada pada kemasan insektisida tersebut. Pada setiap kemasan insektisida umumnya sudah tertera cara penggunaannya.

Tujuan penggunaan insektisida tersebut untuk menekan populasi vektor kutu daun sehingga penyebaran virus antar tanaman atau yang berasal dari luar dapat dicegah, paling tidak dapat dikurangi. Jika belum paham benar dalam penggunaan insektisida tersebut, tanyakan kepada Penyuluh Pertanian atau petugas pertanian setempat

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s