PEMBERIAN PAKAN DAN MINUM BAGI SAPI PERAH

Setiap usaha peternakan sapi perah harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya dan sesuai kebutuhan, sehingga dapat menghasilkan susu sapi yang optimal.
Dalam usaha peternakan sapi perah, pakan memiliki peranan penting untuk peningkatan produksi susu , disamping itu pakan juga untuk memenuhi kebutuhan pokok (maintenance), pertumbuhan maupun untuk produksi lainya ( anak dan daging). Dalam hal ini, pemberian pakan harus memenuhi standar kebutuhan makanan yang diperlukan baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap usaha peternakan harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya, baik yang berasal dari hijauan /rumput, maupun pakan konsentrat yang dibuat sendiri atau yang berasal dari pabrik. Tersedianya pakan yang memenuhi standar kebutuhan sapi perah, dapat mendukung peningkatan produksi susu yang diinginkan peternak. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil produksi susu yang optimal dalam pemeliharaan sapi perah harus memperhatikan mengenai penyediaan pakan yang sesuai kebutuhan.
Susu sebagai salah satu produk peternakan merupakan sumber protein hewani yang semakin dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktivitas sapi perah. Untuk itu pakan bagi sapi perah memegang peranan penting dalam upaya peningkatan produksi susu sapi.
Pada umumnya peternakan sapi perah telah dikelola dalam bentuk usaha peternakan sapi perah komersial dan sebagian lagi masih berupa peternakan rakyat yang dikelola dalam skala kecil, populasi tidak terstruktur dan belum menggunakan sistem breeding terarah, walaupun dalam hal manajemen umumnya telah bergabung dalam koperasi, namun masih sederhana sehingga produksi susu yang dihasilkan kurang dapat bersaing. Untuk mendapatkan produksi susu sapi yang baik dan optimal, selain bibit yang produksinya bagus, juga ditentukan oleh kualitas pakan dan cara pemberian pakan yang baik.
Pakan sapi perah umumnya dibagi tiga, yaitu : (1) Hijauan, yaitu berupa rumput-rumputan, seperti rumput gajah ( Pennisetum purpureum ), rumput raja ( King grass ), setaria, benggala (Penisetum maximum ), rumput lapangan dan BD ( Brachiara decumbens ); (2) Kacang-kacangan, seperti lamtoro, turi, gamal; (3) Limbah pertanian, seperti jerami padi,jerami jagung, jerami kedelai dll.
Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30 – 50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi perah dewasa umumnya diberikan sebanyak ± 10 % dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1 – 2 % dari BB. Sapi yang sedang menyusui ( laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25 % hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang – kacangan ( legum ).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa sertamineral ( sebagai penguat ) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1 – 2 ekor/ekor/hari. Selain makan, sapi perah juga harus diberi air minum sebanyak 10 % dari berat badan per hari.
Pemberian pakan dan minum bagi sapi perah, dapat diberikan sebagai berikut : (1) Pakan hijauan diberikan 2 – 3 kali sehari yaitu pagi dan siang sesudah pemerahan. Pakan hijauan diberikan sebanyak ± 10 % dari berat badan (BB); (2) Pakan konsentrat diberikan dalam keadaan kering, sesudah pemerahan 1 – 2 kali sehari sebanyak 1,5 – 3 % dari berat badan (BB); (3) Air minum disediakan secara tidak terbatas (ad libitum ).
Selain itu, pemberian pakan pada sapi perah juga dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu : ( 1) Sistem penggembalaan ( pasture fattening ); (2) Kereman ( dry lot fattening ); (3) kombinasi cara pertama dan kedua. Pemberian imbuhan pakan ( feed additive ) dan pelengkap pakan ( feed supplement ) harus memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan di musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan dan dimusim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah.Untuk sistem penggembalaan bertujuan pula untuk memberikan kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.

Mengenal Standar Mutu Bibit Sapi Perah FH Unggul Betina

Sumber Gambar: wongkebon.wordpress.com (25/5 2011)

Untuk mendapatkan produksi susu yang bagus, peternak sapi perah sebaiknya perlu mengetahui dan memahami tentang mutu Bibit Unggul Sapi Perah FH Betina.
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu tenaga kerja dan kebutuhan lainya. Sapi menghasilkan sekitar 50 % (45 – 55 %) kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu dan 85 % kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae, seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.

Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa ( Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Zwitzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan. Sapi Friesian Holstein (FH) misalnya terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+6350 kg/th), dengan presentase lemak susu sekitar 3 – 7 %. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahaun, apabila menggunakan bibit unggul, diberi pakan sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m²/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang.

Dalam hal ini, susu sebagai salah satu poduksi peternakan merupakan sumber protein hewani yang semakin dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Sebagai upaya untuk memenuhi kebuthan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktivitas dari sapi perah.
Pada umunya peternakan sapi perah di Indonesia telah dikelola dalam bentuk usaha peternakan sapi perah yang komersial. Oleh karena itu, untuk usaha sapi perah yang dapat menghasilkan produksi susu secara baik/optimal dan dapat memberkan keuntungan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak sapi perah, maka harus menggunakan bibit yang bermutu.

Bibit tipe sapi perah yang lahir dan beradaptasi di Indonesia dan mempunyai ciri serta kemampuan produksi sesuai persyaratan tertentu susu dan menghasilkan anak (pedet). Adapun Standar Mutu Bibit Unggul Sapi Perah FH Betina, sebagai berikut :
A. Standar Umum : 1) Karena bibit sapi perah FH bibit unggul betina merupakan sapi impor, maka sapi perah bibit unggul betina yang dimasukkan harus mempunyai surat keterangan mengerani derajat kemurnian ternak tersubut yang dikeluarkan oleh Asosiasi Breeder sejenis atau badan-badan pemerintah/semi pemerintah swasta yang berwenang; 2) Sapi perah bibit unggul betina tersebut harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti, cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki abnormal serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya; 3) Sapi perah bibit unggul betina tersebut harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan.

B. Standar Khusus : 1) Sifat Kualitatif : warna : hitam putih dengan batas warna hitam dan putih yang jelas, sapi tidak berwarna hitam seluruhnya dan tidak mempunyai warna lain selain warna hitam dan putih. Sapi ditolak bila mempunyai cacat warna antara lain : a) salah satu kakinya dilingkari dengan suatu lingkaran penuh yang berwarna hitam dimana lingkaran tersebut menyentuh kukunya; b) ada bercak hitam pada salah satu kakinya yang memanjang mulai dari kukunya dan ke atas sampai batas atau melampaui persendian lututnya; tanduk : tidak bertanduk; bentuk badan : harus menunjukkan penampilan sebagai sapi perah dan mempunyai ambing dengan 4 buah puting susu yang tumbuh serta berfungsi normal, dan jumlah puting susu tidak boleh lebih maupun kurang dari 4 buah; 2) Sifat kuantitatif : tinggi gumba : minimal 120 cm, umur ternak : 20 sampai 24 bulan sudah dalam keadaan bunting 3 – 5 bulan pada saat dikapalkan. Kebutingan sapi harus hasil perkawinan dengan pejantan bibit unggul FH atau sebagai hasil pembuatan dengan mani pejantan bibit unggul FH, dinyatakan dengan surat keterangan, berat badan : minimal 300 kg, Produksi susu : sapi perah FH bibit unggul betina harus berasal dari tetua 2 generasi sebelumnya dengan kapasitas produksi susu minimal 6.000 kg/laktasi 305 hari. Pernyataan produksi susu tersebut harus dikuatkan dengan surat keterangan/sertifikat oleh Lembaga/Organesisa setempat dan resmi diakui oleh Pemerintah Negara yang bersangkutan.