Peternakan · Ternak Sapi

Anatomi Dan Fisiologi Alat Kelamin Betina Dan Jantan Hormon Reproduksi Teknologi Inseminasi Buatan Pada Sapi

ANATOMI DAN FISIOLOGI ALAT KELAMIN JANTAN SAPI

• Peran hewan jantan dalam reproduksi khususnya sapi potong membuahi sel telur (ova) yang dihasilkan oleh sapi betina untuk menghasilkan kebuntingan dan melahirkan anak

• Produksi sel spermatozoa yang subur dari sapi jantan (pejantan), saat ini digunakan untuk program Inseminasi Buatan.

• Secara Umum Alat Kelamin Jantan Sapi terdiri :
a) Primer (utama) terdiri dari :
1. Testis
2. Epididymis
3. Ductus Deferens
4. Ampula
5. Penis

b) Penunjang (aksesoris) terdiri dari :
1. Kelenjar Bulbourethralis
2. Kelenjar Vesicula seminalis
3. Scrotum
4. Praeputium
5. Kelenjar Prostat
6. Urethra

TESTIS

– terdapat sepasang, diluar tubuh diantara scrotum
– Fungsinya : memproduksi dan melepaskan spermatozoa
memproduksi hormon Testosteron

EPIDIDYMIS
– terdiri dari : Kepala, Badan dan Ekor
– berperan dalam resorpsi (penyerapan) dan sekresi
– Sprematozoa disalurkan ke bagian epididymis (7-9 hari), mengalami pematangan dan memiliki kemampuan bergerak (motilitas) serta pembuahan

THERMOREGULATOR TESTIS (pengaturan suhu testis)
– Merupakan saat kritis dalam fungsi normal testis
– Temperatur testis dipelihara 4-5oC dibawah temperatur tubuh

KELENJAR AKSESORIS:
– menghasilkan cairan yang berguna saat transportasi spermatozoa

PENIS ; sebagai alat perkawinan pada kawin alam

SEMEN (air mani pada manusia)
– cairan yang dikeluarkan oleh alat kelamin jantan saat kawin alam atau selama proses koleksi program inseminasi buatan
– Volume berkisar antara 2 – 15 cc

TEKNIK INSEMINASI BUATAN PADA SAPI

– Merupakan teknologi yang digunakan untuk peningkatan mutu genetik terutama pada ruminansia besar (sapi dan kerbau), merupakan teknologi unggulan bagi bangsa Indonesia yang masih dan akan tetap digunakan dalam upaya peningkatan produktivitas serta populasi ternak khusunya sapi dan kerbau.

– Keuntungan program IB antara lain:
1. peningkatan produktivitas
2. mempersiapkan calon pejantan menjadi pejantan unggul
3. mengurangi bahaya dan biaya bila memelihara pejantan
4. mengurangi jumlah pejantan yang dibutuhkan
5. kontrol terhadap penyakit yang ditularkan lewat kawin alam.
6. mengurangi faktor kecelakaan yang ditimbulkan bila menggunakan kawin alam.

– Kerugian program IB antara lain :
1. Kesulitan dalam deteksi berahi (estrus)
2. Kesulitan dalam penanganan sapi betina yang memerlukan pelayanan inseminasi
3. kesulitan dalam identifikasi dan pencatatan induk atau dara.
4. tidak semua pejantan disukai oleh peternak.
5. memerlukan waktu yang lama dalam penyediaan semen beku dan petugas inseminator selalu ada
6. bila dilakukan tidak baik dapat menularkan penyakit dari kelompok satu ke kelompok lain
7. peningkatan jumlah defect lethal yang ditularkan oleh pejantan pembawa penyakit (carrier).

TEKNOLOGI IB terutama pada sapi perah dan sapi potong mengalami kemajuan pesat pada dekade 1970-1995, dan mengalami penurunan pada tahun 1995 sampai saat ini terutama pada sapi potong dan kerbau, terutama saat Indonesia mengalami krisis ekonomi dan diberlakukannya otonomi daerah.

UPAYA PEMERINTAH PUSAT, melalui kegiatan DESENTRALISASI IB, pada tahun 2001, bertujuan untuk mendekatkan produksi semen beku kepada konsumen (peternak), ditindaklanjuti dengan penyebaran pejantan unggul sapi jenis Simmental dan Limousin beserta peralatan IB ke 22 Propinsi di Indonesia termasuk Provinsi Bengkulu, hingga tahun 2006 kondisi balai IB daerah sangat beragam, sehingga memerlukan REVITALISASI serta penataan program IB baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dalam upaya mendorong program IB salah satu faktor penting untuk mendukung keberhasilannya yaitu faktor : sumberdaya manusia, yaitu petugas inseminasi (inseminator).

Saat ini ada dua katagori petugas inseminator yaitu : pegawai negeri sipil, serta non pegawai negeri sipil (petugas KUD sapi perah, swadaya/mandiri, perusahaan dll).

Upaya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu dalam mempersiapkan tenaga Inseminator perlu didukung oleh semua pihak dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku
(apakah tersedia peralatan untuk pelayanan di lapangan, bagaimana pengaturan ratio hewan yang dilayani serta jangkuan pelayanan, dsb)

Untuk meningkatkan angka kebuntingan dan kelahiran dari seorang petugas inseminator diperlukan perbaikan salah satunya pengukuran kinerja pelayanan secara individu maupun kelompok melalui sosialisasi pentingnya kompetensi, seorang inseminator yang disajikan dalam bentuk Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

SKKNI merupakan uraian tentang kemampuan yang mecakup pengetahuan, keterampilan, serta sikap kerja (atitude) minimal yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menduduki jabatan/pekerjaan tertentu yang berlaku secara nasional.

Untuk masa yang akan datang seorang inseminator sejak yang bersangkutan memiliki surat ijin melakukan inseminasi (SIM), serta surat keputusan lembaga berwenang terutama dari segi jangkauan pelayanan diharuskan bekerja serius untuk dan hanya melayani IB dan tidak melakukan pekerjaan lain yang tidak ada hubungan dengan kompetensinya.

ADA 15 FAKTOR yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap seorang petugas IB (inseminator)

Dalam pelaksanaan IB, seorang inseminator diwajibkan untuk selalu memperhatikan ke 15 faktor tersebut karena dalam konteks program IB, pengetahuan dan keterampilan utama serta pendukung yang harus dimiliki oleh seorang petugas IB akan berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap keberhasilan inseminasi buatan yaitu kebuntingan dan kelahiran

PETUNJUK TEKNIS
UNIT KOMPETENSI BIDANG INSEMINASI BUATAN
—————————————————————————
No. Judul unit kompetensi
—————————————————————————
1. merawat dan menyiapkan peralatan & bahan IB
2. memelihara ketersediaan N2 cair dalam container
3. menata semen beku (straw) dan jumlah semen beku sesuai dengan kode pejantan dalam container
4. menindak lanjuti laporan akseptor berahi
5. menyiapkan peralatan dan bahan saat akan IB
6. memindahkan straw dari contanier di POS IB ke thermos lapangan.
7. menangani akspetor IB
8. melakukan pengecekan/deteksi berahi
9. melakukan penilaian kondisi tubuh (body score condition).
10. melakukan IB (thawing, memasukan straw kedalam gun, mendeposisikannya pada cervix posisi 4, dekat badan uterus).
11. mencatat kegiatan IB (tanggal, pemilik ternak alamat, kode pajantan, derajat intensitas berahi, dsb.)
12. melaporkan data IB secara periodik (bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun)
13. melakukan pembinaan teknis kepada peternak
14. melakukan konsultasi dengan petugas pemeriksa kebuntingan atau ATR atau DRH.
15. melaksanakan keselamatan & kesehatan kerja

TEKNIK INSEMINASI BUATAN PADA SAPI

Waktu optimum (yang tepat) merupakan salah satu dari sekian banyak hal penting untuk keberhasilan inseminasi buatan.

Inseminasi pada sapi betina terutama pada tahap berahi dan kemampuan mendeposisi semen yang subur pada bagian cervix betina dua hal penting untuk terjadinya kebuntingan.

Teknik IB yang benar dapat dipelajari oleh siapapun terutama yang memiliki keinginan serta mental yang kuat

Keterampilan teknik IB menjadi suatu hal yang praktis dan proses pembelajaran

KAPAN INSEMINASI DILAKUKAN ?

Secara umum sapi betina baik Induk maupun dara dapat dilakukan inseminasi sejak pertengahan berahi hingga tidak lebih dari 6 jam setelah akhir berahi

Berahi (etsrus) merupakan bagian dari siklus berahi dan sapi betina memiliki keinginan kelakuan kelamin.

Pada saat itu didalam tubuh hormon estrogen yang dihasilkan oleh sel-sel folikel di ovarium meningkat dan berpengaruh terhadap perubahan fisiologis dan tingkah laku.

Pada alat kelamin bagian luar terlihat kemerahan dan kebengkakan vulva, keluar lendir jernih dari vulva, mencium-cium ingin naik sapi lain, dan diam bila dinaiki

Secara normal setiap 18 – 24 hari (rata-rata 21 hari) terjadi siklus berahi, dan lama berahi 18 – 30 jam, pelepasan sel telur (ovulasi) terjadi 10-12 jam setelah akhir berahi.

Lama dan intensitas berahi bergantung kepada lingkungan sekitarnya

PANDUAN WAKTU INSEMINASI BUATAN
————————————————————————————————-
—————— Sperma hidup ———————–
Terlalu awal waktu optimum kurang baik terlambat

Jam 0 4 14 24-28

Waktu berahi ovulasi

————————————————————————————————–
Sebelum berahi saat berahi setelah berahi kehidupan sel
(6-10 jam) (8- 18 jam) (10-20 jam) telur setelah
Ovulasi

1. saling mecium 1. diam bila dinaiki 1. tidak naik2
2. mencoba 2. gelisah 2. tdak ada lendir
naik2
3. vulva mulai agak 3. nafsu makan turun
Merah, bengkak 4. Prod susu turun
5. Pertama kali naik
6. Vulva merah,basah,
Bengkak.
7. Keluar lendir jernih dari
Vulva
8. Pupil mata dilatasi

PERALATAN YANG DIBUTUHKAN UNTUK INSEMINASI BUATAN

1. semen beku yang disimpan dan dipelihara dalam nitrogen cair dalam contanier
2. Inseminasi buatan kit /tas IB.
3. Thermometer untuk mengukur temperatur bila semen beku mau dithawing
4. sarung tangan plastik
5. tissue dan sabun
6. penjepit straw
7. gun IB (alat IB)
8. plastik sheat
9. larutan desinfectant (alkohol, dsb)
10. dll

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s