Lain - Lain · Peternakan

Penyebaran itik di Indonesia

  1. Sejarah singkat

Penyebaran itik di Asia Tenggara khususnya di Indonesia konon menurut cerita berawal dari datangnya orang-orang hindia Belanda ke pulau Jawa pada abad VII. Mereka datang ke Indonesia sebagai tenaga kerja ahli bangunan yang didatangkan oleh Pemerintah Kerajaan Syailendra untuk membangun candi Hindu Budha. Mereka datang dengan membawa itik untuk diternak untuk menghasilkan telur karena pada zaman itu peranan putih telur sangat efektif untuk bahan perekat batu-batu candi.

Namun ada juga cerita lain mengenai cerita kedatangan masyarakat hindia belanda yang membawa itik yang katanya ada hubungannya dengan adat isitiadat dan kepercayaan mereka.

Itik dan potensinya ternyata cukup menarik bagi penduduk pribumi untuk dipelihara apalagi ternyata pemeliharaannya mudah dan itik bisa mencari makan sendiri serta agak lebih tahan dari penyakit (kebal). Ternak itik yang sangat cocok dengan corak kehidupan masyarakat agraris segera berkembang. Penyebaran itik yang cepat terjadi pada zaman keemasan majapahit dan segera menyebar ke pulau lain. Selama ratusan tahun itik demikian memasyarakat khususnya di daerah dataran rendah yang irigasinya baik, dekat rawa danau atau daerah pesisir.

Di zaman kemerdekaan untuk pertama kalinya pemerintah mengeluarkan program untu mennjang ekonomi rakyat yang dikenal dengan nama RKI yang salah satunya adalah meningkatkan mutu genetik itik lokal dengan mendatangkan itik Khati Campbell dari Belanda dan Inggris.

Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik)

 

 

  1. 2.      Jenis – jenis Itik

Itik Indian Runner

Itik ini sering juga disebut Indische Loopeend. Konon itik ini memiliki hubungan darah dengan itik asli Indonesia. Dugaan ini berdasarkan pada tubuh dan jalannya yang mirip dengan itik Jawa (anas javanica). perkembangannya di Belanda dan belgia cukup pesat karena itik ini mudah dipelihara dan sangat produktif sebagai penghasil telur. Menurut hasil penelitian, itik ini tergolong paling produktif sebagai penghasil telur. produksi telurnya bila dipelihara di lingkungan subtropis (4 musim) berkisar antara 250-300 butir telur/tahun dengan berat telur rata-rata 65 gram/butir.

Berat standar itik jantan 1,8 – 2 kh sedangkan berat standar itik betna 1,6-1,8 kg.
Itik indian runner ini tidak mempunyai sifat mengearmi telurnya dan mulai produksi telur pada umur 22-24 minggu. itik ini bisa dipelihara dengan sistem intensif maupun ekstensif, mempunyai ciri khas, berjalan hampir berdiri, serta dapat digembala di tempat yang jauh.
Kepalanya rata-rata kecil, dengan mata bening bersinar terang, terletak di bagian atas kepala.Leher ramping, bulat dan tegak serta badan cukup langsing baik dilihat dari depan atau belakang juga mirip dengan botol. Adapun sayapnya merapat kuat pada tubuh dan ujungnya tersusun rapi diatas pangkal ekor.

 

 

Itik Khati Campbell

Itik khati campbell konon berasal dari hasil penyilangan antara itik rouan jantan dengan itik jawa (Anas javanica) yang kemudian keturunannya disilangkan dengan itik liar jantan (Wild Mallard). Namun campbell diabadikan dari nama penyilangnya Ny Adale Campbell sedang nama “Khaki” berarti warna bulu abu-abu agak kecoklatan.

Berdasarkan penelitian di Eropa, daya tahan hidupnya sangat baik, kemampuan bertelurnya tinggi bila dipelihara di lingkungan sub tropis (4 musim) serta produktivitas telur sekitar 250-280 butir/tahun, dengan berat telur rata-rata 60 gram/butir. berat badan standar untuk pejantan 1,8-2 kg dan berat betina 1.6-1,8 kg.

Itik khati campbell yang dipasarkan di indonesia atau yang diproduksi oleh PT Charoen Pokphand Jaya Farm berbeda dengan itik khati Capmbell Inggris. Itik yang dipasarkan di Indonesia adalah hasl modifikasi dari silangan dengan itik lokal thailand atau tepatnya hasil keturunan silangan itik jantan khaki campbell inggris dengan itik lokal chonburi.

Menurut publikasi PT Charoen Pokphand, itik jenis kaki ocampbell thailand sangat cocok dipelihara di lingkungan tropis seperti indoneaia karena produksi telurnya bisa mencapai 264 butir/ttahun dengan berat telur 65-70 gram/butir. berat standar itik betina agar bisa diharapkan mencapai produksi optimal adalah 1,4 kg.

Itik khaki campbell tidak mempunyai sifat mengerami telurnya, produksi pertama pada usia 22-24 minggu. itik ini akan berproduksi optimal bila dipelihara dengan intensif range (pasture). selain itu kecenderungan mendekati air sangat kecil sehingga sangat cocok dipelihara di lingkungan kering.

itik ini lebih datar dibanding itik indian runner , kepala tegak dan panjang, mata berwarna coklat tua, letaknya d bagian atas kepala dan penglihatannya sangat tajam. Leher sedikit panjang dan hampir tegak, badan agak melebar seakan hampir lurus.

TIK MOJOSARI

Itik Mojosari merupakan salah satu itik petelur unggul lokal yang berasal dari Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Itik ini berproduksi lebih tinggi dari pada itik Tegal. Itik Mojosari berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha ternak itik komersial, baik pada lingkungan tradisional maupun intensif. Bentuk badan itik Mojosari relatif lebih kecil dibandingkan dengan itik petelur lainnya, tetapi telurnya cukup besar, enak rasanya dan digemari konsumen. Ciri-ciri itik Mojosari, antara Itik Mojosari merupakan salah satu itik petelur unggul lokal yang berasal dari Kecamatan Mojokerto Jawa Timur lebih spesifiknya lagi dari desa Modopuro Mojosari  Mojokerto.  Saat  ini  itik  Mojosari  telah  tersebar  di  wilayah  Indonesia. Itik  ini  berproduksi  lebih  tinggi  dari  pada  itik  Tegal.  Itik  Mojosari  berpotensi untuk  dikembangkan  sebagai  usaha  ternak  itik  komersial,  baik  pada  lingkungan tradisional maupun intensif.

Bentuk  badan  itik  Mojosari  relatif  lebih  kecil  dibandingkan  dengan  itik petelur lainnya, tetapi telurnya cukup besar, enak rasanya dan digemari konsumen.

Ciri-ciri itik Mojosari, antara lain:

  • Warna bulu kemerahan dengan variasi coklat kehitaman, pada itik jantan ada 1-2 bulu ekor yang melengkung ke atas.
  • Warna paruh dan kaki hitam.
  • Berat badan dewasa rata-rata 1,7 kg.
  • Produksi telur rata-rata 230-250 butir/tahun.
  • Berat telur rata-rata 65 gram.
  • Warna kerabang telur putih kehijauan
  • Masa produksi 11 bulan/tahun.

Itik Mojosari yang bertelur pertama kali pada umur 25 minggu memiliki masa produksi lebih lama, bisa sampai 3 periode masa produktif. Setelah umur 7 bulan produksinya  mulai  stabil  dan  banyak.  Dengan  perawatan  yang  baik  produksi perhari dapat mencapai rata-rata 70-80% dari seluruh populasi.

Ada dua jeinis itik mojosari, yaitu itik Mojosari cokelat dan itik Mojosari putih.

a.   Itik Mojosai Cokelat

Gambar: Itik Mojosari Coklat

Ciri  spesifik  itik  Mojosari  adalah  Warna  bulu  coklat  kemerahan  dengan beberapa   variasi   baik   jantan   maupun   betina.   Itik   Mojosari   jantan   memiliki beberapa helai bulu ekor yang melengkung ke atas, warna kaki dan paruhnya lebih hitam daripada itik Mojosari betina. Warna bulu itik jantan lebih hitam daripada betina terutama di bagian kepala, leher, dada, dan ekor.

b.   Itik Mojosai Putih

Gambar: Itik Mojosari Putih

Ciri  spesifik:  Warna  bulu  putih  mulus  tanpa  variasi  baik  jantan  maupun betina, dengan kaki dan paruh berwarna kuning.Dalam perkembanganya sekarang ada itik ITIK MA (Mojosari x Alibio), yang  dari  namanya  saja  sudah  dapat  diduga  yaitu  campuran  dari  jenis  itik Mojosari dan Alabio.

Itik Jawa

Pada pemberian pakan seimbang dan manajemen pemeliharaan yang baik, itik Jawa dapat menghasilkan 250 butir telur setahun. Beberapa varietas dengan tingkat produksi telur yang berbeda biasanya dicirikan oleh pertumbuhan bulu yang spesifik, antara lain tipe Branjangan (250 butir/tahun), tipe Jarakan (200 butir/tahun) dan tipe Bulu Putih (180 butir/tahun). Berat telur berkisar 65 – 70 g dengan kerabang berwarna hijau kebiruan. Berat standar itik jantan berkisar 1,8 – 2,0 kg dan betina 1,6 – 1,8 kg. Itik Jawa mempunyai kepala yang kecil dengan paruh datar dan leher panjang. Bentuk tubuh seperti botol, bulu berwarna coklat gelap, paruh putih dan shank hitam. Itik jantan dicirikan oleh adanya 3 bulu ekor spesifik yang mencuat ke atas.

Itik Bali

 

Sebagai tipe itik petelur, Itik Bali sangat dominan dipelihara secara ekstensif di pelosok Pulau Bali. Berbeda dengan Itik Jawa, memiliki postur kepala yang lebih kecil dan leher lebih pendek dengan jambul unik di atas kepalanya. Bertelur pertama kali pada umur 23 – 24 minggu. Berdasarkan tipe bulu yang berkorelasi dengan kemampuan produksi telur, terdapat 3 varietas yaitu tipe Sumi yang dapat menghasilkan 150 butir per tahun, tipe Sumbian dengan 143 butir dan Sikep mampu bertelur 100 butir per tahun. Berat telur berkisar 59 gram berwarna kerabang hijau keabu-abuan, tetapi beberapa varietas menghasilkan telur berwarna putih.

 

Itik Borneo

Berbeda dengan kedua bangsa itik sebelumnya yang lebih banyak hidup di daratan, Itik Alabio tinggal lebih banyak di daerah sungai dan berawa.  Itik Borneo (Anas platurynchus) yang banyak ditemukan di Pulau Kalimantan mempunyai 2 varietas yaitu Itik Alabio dan Itik Nunukan, meskipun varietas pertama jauh lebih populer. Banyak peneliti yakin bahwa Itik Alabio merupakan hasil persilangan antara bangsa itik lokal dengan Itik Peking. Bulu didominasi oleh warna abu-abu tetapi jenis betina memiliki bulu lebih kekuningan sementara itik jantan mempunyai warna yang lebih gelap. Terutama pada bulu di sekitar kepala, leher, dada dan ekor bagian ujungnya terdapat bulatan hitam. Kedua jenis kelamin memiliki paruh dan shank berwarna kuning. Itik Alabio mampu menghasilkan 180 – 225 butir telur per tahun, dengan kerabang berwarna hijau keabu-abuan. Berat itik jantan berkisar 1,8 – 2,0 kg per ekor dan itik betina antara 1,6 – 1,8 kg.

 

 

 

 

 

 

 

 

Itik Alabio

Itik   alabio   merupakan   salah   satu   plasma   nutfah   unggas   lokal   yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur. Itik ini telah lama dipelihara dan berkembang di Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU). Populasi itik alabio   di   Kalimantan   Selatan   tahun   2006   tercatat   3.487.002   ekor   (Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan 2006).

Berdasarkan catatan sejarah, dulu itik Alabio disebut itik Banar. Baru pada tahun  1959  dikenal  dengan  nama  itik  alabio,  itupun  setelah  seorang  ilmuwan Indonesia    melakukan    penelitian    itik    di    daerah    tersebut    yang    kemudian menamainya  dengan  itik  alabio.  Kini,  alabio  yang  melegenda  dapat  disaksikan langsung melalui itiknya yang masyhur di tengah nusantara.

Ciri-ciri itik Alabio, antara lain:

  • Warna  bulu  coklat  dengan  bintik-bintik  putih  di  seluruh  badan  dengan garis putih di sekitar mata. Pada jenis jantan, warna bulu cenderung gelap. Sayapnya  terdapat   beberapa  helai   bulu   suri   berwarna   hijau   kebiruan mengkilap..
  • Warna paruh dan kaki kuning terang.
  • Berat badan bobot badan betina umur 6 bulan 1,60 kg dan jantan 1,75 kg.
  • Produksi telur rata-rata 220-250 butir/ekor/tahun.
  • Berat telur rata-rata  59-65 g/butir.
  • Warna kerabang telur putih kehijauan
  • Bobot badan umur 8 minggu= 981-1.152 gr/ekor
  • Bobot DOD 45-49 gr/ekor
  • FCR 4,12

Itik  alabio  termasuk  itik  lokal  unggul  dwi  fungsi,  karena  selain  mampu memproduksi   telur   yang   tinggi,   rata-rata   214,72   butir/tahun,   juga   potensial sebagai penghasil daging dibanding itik lokal lain di Indonesia, seperti itik tegal, itik karawang, itik mojosari, itik turi, itik magelang, dan itik bali.

Keunggulan  itik  Alabio  adalah  Dalam  umur  6  bulan  itik  alabio  sudah mampu memproduksi telur dengan bobot rataan telur pertama 55,0 gram. Sedang bobot rataan telur selama produksi seberat 62 gram. Puncak produksi telur yang dapat dicapai itik alabio sebesar 90% pada sekitar minggu ke-12.

Secara  tradisional,  itik  alabio  dipelihara  di  daerah  rawa  yang  banyak terdapat di Kalimantan  Selatan dengan sistem pemeliharaan yang disebut sistem lanting.  Di  daerah  rawa  itulah  itik  alabio  memperoleh  pakan  berupa  keong  air sebagai  sumber  protein  dan  sagu  atau  dedak  sebagai  sumber  kalori.  Seiring perkembangan dunia peternakan, itik alabio sekarang sudah dikembangkan secara intensif. Tidak hanya di Hulu Sungai Utara saja, namun juga berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali.

Itik Tegal

Itik  Tegal  merupakaan  itik  yang  berasal  dari  daerah  Bribes  atau  Tegal Jawa Tengah.Ciri-cirinya  adalah:  warna  bulu  yang  paling  dominant  adalah  brajangan, yaitu kecoklatan pada seluruh bagian tubuhnya yang disertai totol kecoklatan yang agak jelas pada dada, punggung, dan sayap bagian luar. Sedangkan paruh dan kaki berwarna hitam.

Ciri-ciri lain: Kepala kecil; bermata  merah dengan berparuh panjang  dan melebar di   ujungnya; leher langsing  panjang dan bulat; sayap  menempel badan dengan  erat  pada  badan  dan  ujung  bulu-bulunya  saling  menutupi  di  atas  ekor. Bentuk badanya hampir tegak lurus, langsing seperti botol, dan langkah tegap.

Umur pertama bertelur 162 hari, produksi telur 43% per hari, pertumbuhan betina : bobot DOD 43,7 gr/ekor, bobot badan 8 minggu1.0005,1 gr/ekor, FCR 8

Asalnya adalah dari kab. Tegal ds. Limbangan, Kec. Brebes Jawa Tengah. Sedangkan penyebaranya meliputi: pantura, jateng, Jabar.

Itik Magelang

Itik  ini  sering  juga  disebut  itik  Kalung  atau  Plontang  karena  terdapat kalung atau garis berwarna putih jelas pada leher itik tersebut.

Cirri-ciri  fisiknya  antara  lain:  pada  itik  jantan  terdapat  bulu  putih  yang melingkar  sempurna  di  sekitar  leher  setebal  1-2  cm  berbentuk  seperti  kalung. Warna  bulu  dada,  punggung  dan  paha  didominasi  warna  coklat  tua  dan  muda, dengan  ujung  sayap  putih  (plontang),  warna  kaki  hitam  kecoklatan,  sedangkan paruhnya berwarna hitam.

Lokasi  asal  itik  ini  adalah  pada  daerah  Sempu,  Ngadirejo,  Kec  Secang, Magelang Jawa Tengah. Penyebaranya meliputi: Magelang, Ambarawa, Temanggung.

Karakter Produksi telurnya adalah: 131 butir/ekor/tahun, puncak produksi 55,1%, pertumbuhan betina: bobot DOD 38,41 r/ekor bobot badan umur 8 minggu adalah 1.581,1 gr/ekor, FCR 2,28.

  1. MANFAAT

1)  Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.

2)  Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.

3)  Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.

4)  Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.

5)  Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

  1. PERSYARATAN LOKASI

Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.

  1. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1). Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.

 

 

 

5.1.  Penyiapan Sarana dan Peralatan

  1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 derajat C.
  2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
  3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
  4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:

a.   kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD

b.  kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok

c.   kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).

  1. Kondisi kandang dan perlengkapannya

Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen

5.2.Pembibitan

Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.

1)         Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :

a.   membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya

b.   memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas

c.   membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

2)         Perawatan bibit dan calon induk

a.   Perawatan Bibit

Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.

b.   Perawatan calon Induk

Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.

3) Reproduksi dan Perkawinan

Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

5.3.  Pemeliharaan

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.

  1. Pengontrol Penyakit

Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.

  1. Pemberian Pakan

Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase.

Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:

a.   umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)

b.   umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai

c.   umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.

d.   umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).

  1. Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :

a.   umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.

b.   umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)

c.   umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.

  1. 5.   Pemeliharaan Kandang

Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.

  1. 6.      HAMA DAN PENYAKIT

Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:

1)  penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa

2)  penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat
Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:

1.  Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.

2.  Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.

  1. 7.      P A N E N

        7.1. Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik

       7.2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga

  1. 8.      PASCA PANEN

Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:

a)      Pengawetan dengan air hangat

Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.

b)      Pengawetan telur dengan daun jambu biji

Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.

c)      Pengawetan telur dengan minyak kelapa

Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.

d)      Pengawetan telur dengan natrium silikat

Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.

e)      Pengawetan telur dengan garam dapur

Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25- 40% selama 3 minggu.

  1. 9.    Gambaran Peluang Agribisnis

Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1998
  2. Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1999
    1. Prawoto; Peternak ternak itik. Desa Sitemu Kec. Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361
    2. Sumber : Bambang Agus Murtidjo, “Mengelola Itik”, Penerbit Kanisius
  3. Diterbitkan di: September 13, 2010   Updated: Oktober 05, 2010
  4. Anonymous. 2000. Laporan Hasil Kegiatan Gelar Teknologi Penerapan

a)      Sistem Usahatani Itik Petelur dl DKI Jakarta. IP2TP Jakarta. http://www.pustaka-

  1. deptan.go.id/agritek/dkij0120.pdf

b)      Anonymous. 2007. Budidaya Ternak Itik. Menristek. http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip/BUDIDAYA%20TERNAK

  1. %20ITIK.doc

c)      Anonymous. 2007. Keunggulan Itik Alabio. http://www.tanimerdeka.com/modules.php?name=News&file=categories

  1. &op=newindex&catid=15

d)      Ira. 2008. Berbagai Peluang Berternak Itik. http://www.indofamilybisnis.com/index2.php?option=com_content&do_p

  1. df=1&id=219

e)      Suryana. 2007. PROSPEK DAN PELUANG PENGEMBANGAN ITIK ALABIO DI KALIMANTAN SELATAN.

  1. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/?q=node/247

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s