Sapi Potong · Ternak Sapi

Penanganan Pasca Panen Sapi Aceh

Sapi Aceh, adalah salah satu jenis sapi potong yang sudah dikenal lama, karena telah menjadi salah satu komoditi ekspor utama Aceh di era tahun 1960-an sampai 1970-an. Saat itu sapi Aceh merupakan produk andalan peternak untuk memenuhi kebutuhan daging sapi bagi masyarakat di Sumatera dan sebagian Indonesia. Setelah itu sapi aceh bak hilang ditelan bumi karena produktivitasnya menurun. Kini kejayaan sapi Aceh ingin dikembalikan dengan mengembangkan kembali peternakannya. Keunggulan sapi Aceh antara lain memiliki rasa daging yang gurih, ternaknya dapat merumput dengan baik, lebih resisten terhadap gangguan dan serangan penyakit (parasit), sangat sesuai dengan kondisi dan iklim di Aceh, mampu beranak dan menghidupi anaknya walaupun pakannya tidak terlalu baik, dapat mencapai berat badan 200-300kg pada umur 3-4 tahun bahkan dapat mencapai berat 450 kg dengan pemberian pakan yang baik.

Sapi Aceh yang dipelihara dengan baik setelah mencapai berat yang optimal atau yang diinginkan dapat di panen atau dijual. Hasil utama dari peternakan sapi adalah dagingnya. Hasil tambahannya berupa kulit dan kotorannya.

Pasca panen sapi Aceh di mulai dari penyembelihan, pengulitan, pengeluaran jerohan, dan pemotongan karkas.

Penyembelihan
Untuk memperoleh hasil penyembelihan yang baik, ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum disembelih
2. Ternak sapi harus dibersihkan, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3. Penyembelihan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.

Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran kulit dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.

Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (Visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.

Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi di potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.
Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh, sebagai berikut:

1. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%.
2. Kualitas kedua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%,
3. Kualitas ketiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%,
4. Kualitas keempat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%,
5. Kualitas kelima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%,
6. Kualitas keenam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%,
7. Kualitas ketujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan
8. Kualitas kedelapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%.

Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%)
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah Berat Recahan x 100 %
Berat Karkas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s