Sapi Perah

BIBIT SAPI PERAH FH JANTAN

Sumber Gambar: http://ariendaypilano.blogspot.com
Bibit merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan bisnis peternakan. Dengan bibit yang baik dan unggul akan memberikan hasil yang baik pula. Demikian sebaliknya, apabila terjadi kesalahan di awal kegiatan usaha yaitu dalam menentukan dan memilih bibit, maka bisa berakibat fatal. Bahkan, dapat menimbulkan kegagalan usaha peternakan.

Tujuan pemilihan bibit adalah untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi. Untuk itu diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Agar dapat menjamin mutu produk yang sesuai dengan persyaratan teknis minimal maka setiap bibit, khusunya sapi perah jantan haruslah memenuhi beberapa kriteria. Kriteria tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

1. Mempunyai silsilah (pedigree) sampai 2 (dua) generasi diatasnya untuk bibit dasar/elite dan bibit induk;
2. Mempunyai silsilah (pedigree) minimal 1 (satu) generasi diatasnya untuk bibit sebar;
3. Berasal dari daerah yang bebas penyakit hewan menular tang dinyatakan dengan Surat Kesehatan Hewan dari pejabat yang berwenang;
4. Memiliki bentuk ideal, alat reproduksi normal serta tidak memiliki cacat fisik;
5. Sudah potong tanduk (di-dehornim);
6. Bukan dari kelahiran jantan dan betina (free martin);
7. Secara khusus, bibit sapi perah jantan harus memenuhi syarat yang telah disepakati yaitu menyangkut umur, tinggi pundak, berat badan, dan warna bulu, sebagai berikut :
o Umur : minimal 18 bulan
o Tinggi pundak : minimal 134 cm
o Berat badan : minimal 480 kg
o Warna bulu : hitam putih/merah putih sesuai dengan karakteristik sapi FH
8. Secara khusus untuk sapi perah pejantan lingkar scrotum minimal 32 cm;
9. Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
10. Perawatan bibit harus dilakukan dengan menyisihkannya dari jenisnya yang lain. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.

Untuk memperbaiki kualitas produksi yang ada saat ini, impor bibit sapi perah khususnya jantan dianggap salah satu cara yang paling tepat. Bibit sapi jantan yang banyak diimpor adalah jenis Friesien Holstein (FH).

Namun, kegiatan impor tersebut tidaklah sembarang impor saja. Bibit sapi perah yang akan diimpor harus setelah melalui tahapan seleksi yang panjang untuk dinyatakan sebagai bibit unggul. Sistem pilah-pilih bibit sapi perah pun dilakukan dengan ketat agar menghasilkan bibit unggul yang diinginkan.

Pemilihan bibit pejantan mendapatkan porsi yang sama besarnya dengan bibit sapi dara ataupun bibit sapi dewasa betina. Seekor pejantan juga menentukan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Oleh sebab itu, seekor pejantan harus memenuhi kriteria sebagai pejantan unggul. Kriteria tersebut antara lain, umur sekitar 4-5 tahun dan memiliki kesuburan tinggi. Daya menurunkan sifat produksi susu yang tinggi wajib dimilikinya. Sama seperti betina, pejantan juga berasal dari induk dan pejantan yang memiliki performa atau produksi yang tinggi.

Penampilan seekor pejantan harus baik, besar badan yang dimilikinya harus sesuai dengan umur. Pejantan unggul juga mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik. Secara fisik, pejantan memiliki tubuh yang kuat, muka sedikit panjang, kepala lebar, leher besar, punggung kuat, pinggang lebar, pundak sedikit tajam dan lebar. Paha yang dimilikinya rata dan cukup terpisah, dada lebar dan jarak antar tulang rusuk cukup lebar. Badan panjang, dada dalam, lingkar perut dan lingkar dada besar. Pejantan tentu saja harus sehat dan bebas dari penyakit menular dan pastinya tidak menurunkan cacat pada keturunannya.

Sebaik apapun performa yang diperoleh dalam pemilihan, hasil produksi yang dihasilkan juga ditentukan oleh faktor lingkungan. Pemeliharaan bibit sapi perah menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam budidaya. Bibit sapi perah yang baru datang sebaiknya dikarantina agar mencegah penularan penyakit. Ketersediaan sarana dan prasarana yang baik menjadi perhatian penting dalam proses budidaya. Kebersihan kadang dan kesehatan ternak juga harus terus dijaga. Peternak pun harus selalu memberikan pakan yang cukup dan berkualitas, air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. (Inang Sariati)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s