Ternak Kerbau · THP Peternakan

PANEN DAN PASCAPANEN KERBAU

Kerbau (Bubalus bubalis) adalah ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam penyediaan daging. Ternak ini merupakan ternak asli daerah panas dan lembab, khususnya daerah belahan utara tropika. Berbagai jenis kerbau dapat dipelihara oleh peternak. Diantaranya adalah jenis Kerbau Lumpur dan Kerbau Sungai. Kedua jenis kerbau ini memiliki ciri masing-masing baik ciri kualitatif maupun kuantitatif.
Ciri-ciri Kerbau Lumpur diantaranya, kulit berwarna abu-abu sampai hitam. Bulu juga demikian; tanduk mengarah ke belakang secara horizontal, bentuk bulat panjang dengan bagian ujung yang meruncing serta membentuk setengah lingkaran; kondisi badan baik, bagian belakang penuh dengan otot yang berkembang; leher kompak dan kuat serta mempunyai proporsi yang sebanding dengan badan dan kepala; ambing berkembang dan simetris.
Sedangkan Kerbau Sungai dengan ciri-ciri: kulit umumnya berwarna hitam dengan bulu hitam panjang pada telinga; tanduk melingkar pendek menuju ke belakang dan ke atas, kemudian berputar ke dalam membentuk spiral; badan berbentu siku, langsing menuju tipe perah, ambing berkembang baik dan simetris.
Di beberapa daerah tertentu di Indonesia, ternak kerbau merupakan lambang status bagi pemiliknya. Bahkan, tanduknya yang indah, melingkar setengah lingkaran dengan ujungnya yang runcing, tidak jarang dipajang secara berjejer di tiang depan rumah mereka sebagai simbol prestise tuan rumah yang bersangkutan.
Tujuan utama pemeliharaan kerbau adalah untuk dapat menghasilkan panen dan pascapanen yang produktif. Produksi yang paling diharapkan adalah berupa daging baik dari ternak itu sendiri maupun dari anak yang dilahirkannya. Disamping itu, kerbau juga bisa dimanfaatkan sebagai tenaga kerja yang handal, serta penghasil susu yang nilai gizinya tinggi, tidak kalah dengan susu ternak yang lain. Dan, tentu saja masih ada produk sampingan lain yang juga bisa dimanfaatkan yaitu hasil limbah atau kotorannya yang diproduksi secara terus menerus, serta sebagian kecil dari populasi ternak-ternak yang sudah tidak produktif (afkir) lagi.
Anak ternak. Ternak kerbau betina dapat melahirkan anak setiap tahun. Selang waktu beranak (calving interval) adalah antara 12-18 bulan. Anak ternak yang lahir merupakan produksi paling potensial bagi pengembangan usaha.
Penanganan pascapanen beternak kerbau adalah memelihara anak ternak setelah umur penyapihan untuk dijadikan bibit (induk). Sementara anak yang kurang baik dapat dibesarkan atau langsung dijual.

Tenaga kerja. Dengan beternak kerbau, peternak dapat memperoleh tenaga secara cuma-cuma untuk mengolah tanah pertanian mereka. Tenaga ini tentu saja sangat berarti, terutama ketika musim olah tanah tiba. Alat yang digunakan biasanya berupa bajak ataupun luku. Apabila sumber tenaga ini dijual sebagai jasa untuk mengolah tanah sawah orang lain maka tentu saja dapat menghasilkan pendapatan bagi petani (pemilik) ternak.
Penanganan pascapanen ternak kerbau setelah memberikan jasa tenaga pengolah tanah atau penarik gerobak adalah memelihara ternak tersebut secara intensif. Misalnya, pemberian pakan yang cukup jumlahnya dan kaya akan gizi, perkandangan yang sehat, serta pengendalian penyakit secara terpadu.

Kotoran ternak. Produk sampingan dalam beternak kerbau adalah kotorannya. Kotoran ini dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik, pupuk kompos dan sumber energi. Pupuk organik memberikan manfaat yang besar bagi tanaman. Disamping bahan bakunya selalu tersedia karena diproduksi oleh ternak secara terus menerus sepanjang waktu, juga cara membuatnya sangat sederhana, yaitu; kotoran ternak kerbau dikumpulkan, kemudian dijemur selama minimal 4 hari. Selanjutnya kotoran ternak tersebut dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik pada budidaya pertanian.
Sedangkan pupuk kompos juga demikian. Pembuatannya dengan cara; Kotoran kerbau dicampur dengan sisa-sisa atau limbah tanaman. Kemudian hasilnya dapat dijadikan kompos untuk keperluan budidaya pertanian.
Sementara itu, sebagai sumber energi, kotoran ternak kerbau dapat dijadikan bahan pembuatan gas bio yang diproduksi dalam lubang pencerna (dipgester). Lubang pencerna ini harus dalam kondisi tertutup rapat selama 1-3 bulan. Gas bio dibutuhkan untuk penerangan, kompor, petromaks, dan lain-lain. Sementara itu kotoran sisa gas bio juga dapat digunakan sebagai pupuk organik. Atau, bisa juga dikeringkan untuk dijadikan bahan bakar berupa arang

Ternak Tidak Produktif. Ternak kerbau tidak produktif atau afkir adalah kerbau-kerbau yang umurnya sudah tua dan tidak kuat lagi tenaganya untuk digunakan menggarap sawah ataupun tanah pertanian ketika musim olah tiba. Atau, ternak kerbau yang karena satu dan lain hal kondisi alat reproduksinya terganggu karena mengalami cacat sehingga untuk yang betina tidak bisa lagi melahirkan anak secara normal sedangkan untuk yang jantan tidak dapat dijadikan sebagai pemacek. Tindakan yang bisa dilakukan untuk ternak kerbau yang sudah tidak produktif ini, satu-satunya hanya dengan jalan memotong untuk mengambil dagingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s