Pakan

PERAWATAN KEBUN HIJAUAN MAKANAN TERNAK

Hijauan Makanan Ternak (HMT) merupakan salah satu bahan makanan yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan populasi ternak. Oleh karena itu, hijauan makanan ternak merupakan dasar utama untuk mendukung peternakan Terlebih lagi bagi peternakan yang setiap harinya membutuhkan cukup banyak hijauan pakan ternak.

Kebutuhan akan hijauan makanan ternak (HMT) akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak yang dimiliki. Kendala utama di dalam penyediaan hijauan ini, biasanya adalah keterbatasan produksi. Tidak ada jaminan bahwa produksinya didapat secara tetap sepanjang tahun. Pada saat musim penghujan misalnya, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah. Namun, sebaliknya pada saat musim kemarau tiba, tingkat produksinya akan jauh menurun. Bahkan, dapat berkurang sangat signifikan atau tidak memenuhi sama sekali dari jumlah kebutuhan yang ada.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peternak haruslah mengambil langkah-langkah antisipasi secara dini. Hal ini penting karena apabila terlambat penyediaan HMT maka akan berdampak buruk pada hasil usaha peternakan yang dikelola. Salah satu langkah yang diperlukan adalah perawatan terhadap kebun Hijauan Makanan Ternak yang sudah ada.

Perawatan Kebun Hijauan Makanan Ternak, meliputi:
• Perbaikan dan pengaturan saluran drainase, bertujuan untuk merawat aliran air dari kandang sehingga tanaman rumput yang ada terairi secara merata oleh aliran air yang ada sehingga pertumbuhannya menjadi lebih optimal dan menyebar secara merata.

• Pembersihan Gulma, biasanya dalam lahan yang ditanami banyak terdapat gulma / tanaman pengganggu. Hal tersebut akan mempengaruhi penyerapan hara oleh tanaman inti sehingga pertumbuhannya menjadi kurang optimal. Maka gulma tersebut perlu dibersihkan dan pembersihannya dilakukan dengan cara mekanis (manual) dengan menggunakan alat pertanian ringan seperti sabit dan cangkul yaitu dengan cara membabat dan mencabutnya sampai sistem perakaran gulma tersebut tercabut dengan sempurna.

• Penyulaman, dalam tanaman biasanya ada saja tanaman yang mati sehingga perlu diganti dengan tanaman yang baru (disulam). Penyulaman ini bertujuan untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman yang baru sehingga dapat tergantikan. Penyulaman ini dilakukan dengan cara stek ataupun pols.

• Pendangiran, bertujuan untuk memperbaiki saluran drainase dan memperbaiki sistem aerasi tanah sehingga kesuburan tanah tetap terjaga dan tanaman dapat tumbuh secara optimal. Selain itu, guna membunuh tanaman pengganggu (gulma).

• Pemanenan, dilakukan pada saat umur tanaman antara 60-70 hari atau menjelang masa vegetasi (menjelang masa berbunga). Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas dari nutrisi yang terkandung dalam tanaman rumput karena jika sudah berbunga nutrisi yang terkandung dalam rumput menjadi rendah, sedangkan serat kasarnya meningkat. Jika masih terlalu muda, kadar airnya masih tinggi sehingga akan mengakibatkan mencret pada ternak. Pemotongan rumput ini menyisakan sisa batang dengan ketinggian 2-3 cm. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses anakan dari rumput tersebut.

• Pemupukan, kesuburan tanah setiap waktunya akan semakin menurun sehingga perlu dilakukan pemupukan secara kontinyu. Pemupukan ini dibagi menjadi dua cara yaitu dengan menggunakan pupuk organik dan pupuk an-organik (kimia). Pemupukan organik dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang dilakukan dengan menggunakan pupuk kotoran ayam dan sapi. Pupuk kotoran ayam menggunakan dosis sekitar 500 karung / ha, sedangkan untuk pupuk dari ternak sapi diberikan dengan dosis tidak terbatas dengan catatan semua lahan yang ada terbagi secara merata. Pemupukan organik dengan pupuk kotoran sapi dapat dilakukan setiap saat sedangkan untuk pemupukan organik menggunakan kotoran ayam dilakukan pada saat ketersediaan air terpenuhi (musim hujan). Hal ini dikarenakan kotoran ayam tersebut bersifat panas karena kadar N yang sangat tinggi sehingga akan mengakibatkan kematian tanaman jika diberikan pada saat ketersediaan air kurang.

Pemupukan dengan menggunakan pupuk kimia diberikan pupuk urea dengan dosis antara 150-200Kg/Ha. Adapun cara pemupukannya adalah dengan menyebarkannya secara merata pada tanaman rumput yang telah dipanen pada saat tanaman berumur 7 hari setelah pemanenan. Hal-hal yang perlu diingat dalam penyebaran pupuk an-organik ini adalah harus memperhatikan arah angina. Penyebaran pupuk harus dilakukan dengan cara mengikuti arah angin karena jika berlawanan dengan arah angin penyebaran pupuknya tidak akan tersebar dengan sempurna. Pemberian pupuk TSP diberikan jika kondisi tanaman yang ada batangnya sudah rapuh dan ditandai dengan banyaknya tanaman yang roboh. Sedangkan dosis yang dianjurkan sebanyak 50-100Kg/Ha dan pemberiannya menyesuaikan dengan kondisi rumput namun dapat dilakukan setiap 3-4 tahun sekali. Perlu diperhatikan, pupuk an-organik (urea/kimia lainnya) lebih baik diberikan pada saat musin hujan sehingga ketersediaan air cukup atau kondisi tanah yang basah. Sebab, jika dilakukan pada saat kondisi tanah kering akan membunuh tanaman. Hal ini disebabkan kandungan N pada urea yang tinggi yang akan mengakibatkan kematian pada tanaman.

• Pelaksanaan perawatan kebun rumput, ini dilakukan secara kontinyu setiap harinya terutama pengairan, pembersihan gulma, penyulaman dan pendangiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s